Ciri-Ciri Pengembang Nakal

Penting untuk mengetahui ciri-ciri pengembang properti yang nakal. Itu karena transaksi Anda dengan mereka tidak bernilai kecil–bahkan bisa jadi merupakan transaksi terbesar sepanjang hidup Anda. Ketika Anda terjebak dengan pengembang yang nakal, bukan waktu saja yang mungkin terbuang, tapi juga uang.

Anda bisa mengenali pengembang nakal dengan melakukan investigasi sendiri dan investigasi di Internet, seperti forum, mailing list, situs web berita, atau komentar-komentar di Facebook. Berikut ini adalah ciri-ciri pengembang nakal.

(Baca: Temukan Rumah Idaman)

  • Pengembang tidak menyerahkan Perjanjian Pengikatan Jual-Beli (PPJB) setelah Anda menyetor uang tanda jadi (booking fee).
  • PPJB tidak dapat dapat dinegosiasikan dan uang tanda jadi tidak dapat dikembalikan.
  • Proses pemesanan, pembangunan, dan proses lain tidak berjalan sesuai jadwal yang diejaskan di awal.
  • Pengembang tidak memiliki tim khusus untuk layanan pelanggan yang dapat menjelaskan atau menangani keluhan pelanggan.
  • Spesifikasi bangunan tidak sesuai dengan yang dijanjikan di awal.
(Baca: Biaya-Biaya Beli Rumah Baru)

Ketika Anda sudah terlanjur terjebak berurusan dengan pengembang nakal, sulit bagi Anda untuk menyelesaikan masalah. Ketika Anda sudah menyerahkan uang, apalagi cicilan sudah berjalan, pengembang sudah di atas angin. Saat perlu menyampaikan komplain, ada baiknya bicara dengan pembeli rumah lain dan mengajak mereka bersama-sama mengajukan komplain.

This Post Has 73 Comments

  1. Diah says:

    dear rumah.com,

    saya senang bisa bergabung dengan rumah.com
    saya baca artikel di halaman terdepan yahoo tenteang ciri2 pengembang nakal. saya lihat disitu ditulis oleh rumah.com
    saya mendukung adanya artikel mengenai hal tersebut, tapi sebaiknya diteliti lebih dalam lagi karena ada sebagian isi yang merugikan pengembang khususnya marketing developer seperti saya & teman2 marketing lainnya.

    1. terutama kalimat yg menyebutkan bookingfee tidak dapat dikembalikan. Developer manapun akan memberlakukan peraturan : ” booking hangus apabila pembeli membatalkan sepihak kecuali jika KPR nya tidak di acc oleh bank yang bersangkutan ” artinya jika KPR tidak disetujui bank maka booking fee dapat dikembalikan tapi jika konsumen mengulur waktu, tanpa alasan yg jelas batal beli kemudian beli di tempat lain, ya sudah sewajarnya hangus. alasannya : selama kav terebut ditutup (tidak dijual karena di booking) siapa yg mau nanggung kerugian itu ? padahal banyak yg incar kavling tersebut.

    2. Penyerahan PPJB perlu proses terutama jika menghadapi kendala berhadapan dengan konsumen yg super sibuk.
    3. kalimat ” mengajak mereka bersama sama mengajukan keluhan ” ???? bukankah itu mengarah ke demo ?. Tidak semua masalah yg terjadi di lapangan adalah kesalahan pengembang, ketika BI checking error sehingga proses KPR jadi lama, ketika ada pergantian pejabat BPN sehingg proses sertipikasi tertunda, ketika konsumen tidak cooperative dalam proses collect data KPR, dll apakah itu salah pengembang. Dan semua itu bisa diselesaikan dengan negosiasi kekeluargaan one by one dgn kepala dingin

    jadi mohhon artikel itu dikoreksi dan dikaji dulu lebih dalam sebelum menayangkan, pilih kalimat yg tepat yg menguntungkan semua pihak. bukankah developer & marketing yang memasarkan product developer adalah mitra terbesar Rumah.com ????

    trimakasih atas perhatiannya. semoga SUKSES untuk rumah.com

  2. Aries.Gunawan says:

    Saya setuju dengan pernyataan mba Diah, tetapi artikel ini dibuat memang ditujukan untuk mengantisipasi dengan sangat hati-hati dalam memilih developer yang bertujuan memberikan rasa aman dan tidak menyesal kepada kosumen, apabila ada kesalahan yang dilakukan oleh developer yang tidak bertanggung jawab.

  3. Fre says:

    Kehidupan bersuara memang banyak nada..

  4. Mahersa Purnama says:

    Maaf, mhn petunjuk dan saran.

    Saya mempunyai teman yg sdh lebih dari 6 bulan terkena dampak pembangunan yang molor, dengan alasan bahwa Bank pemrosesnya berganti. Sehingga dia akhirnya membatalkan secara sepihak, padahal ia saat pertama diminta tanda jadi, ia langsung memberikan sebesar Rp. 25jt.. Dan memang tdk ada PPJB, hanya diberi kwitansi yang berstemple perusahaan pengembang. Sampai akhirnya berada di Bank “XXX”. Namun yg membuat ia membatalkan adalah, saat pertama diprof dan di wawancara, bunga yang ada sdh berubah dan naik dari brosur 6 bulan sebelumnya, ia masih menerima. Dan sekitar 1 bulan setelah wawancara tersebut, Ia dipanggil kembali dan diberi tahu bahwa harga rumah KPR hrs bertambah Rp. 50jt.

    Pertanyaannya :

    1. Karena ada perubahan harga, dan teman tdk sanggup, maka pembatalan secara sepihak oleh teman saya. Siapa yang salah ?

    2. Permasalahan spt ini Pengembang yang nakal, atau Bank – nya yang brengsek. Karena wawancara dan pemroses KPR ada dipihak Bank.

  5. kru says:

    Banyak kendala-kendala yang harus di tempuh dalam segala pengurusan dan kepemilikan rumah terlebih dalam proses KPR, bisa dari konsumennya itu sendiri, bisa dari pihak developernya, dan bisa juga dari berbagai pihak pemerintah yang membuat peraturan dan perijinan yang dibuat susah dan banyak meja, (alangkah bagusnya di pemerintahan peraturan dan pengurusan bersifat online tidak bertatap muka, yang banyak menimbulkan korupsi atas kebijakan dan kecepatan

  6. Faizal says:

    saya suka dengan artikel ini, karena saya salah satu korban developer yang curang, seluruh point itu saya mengalaminya dan merugikan saya…developernya mengatakan “akan saya kembalikan uang anda 100%, sedangkan perhitungan kerugian saya adalah rugi waktu,kemudian nilai harga tanah saat ini berbeda dengan berapa bulan sebelumnya (Baca:harga tanah selalu naik) itu artinya sama saja saya membiayai developer mengembangkan usahanya menggunakan uang yang saya miliki tanpa bunga alias pinjaman dgn bunga 0%

    @dhia : saya juga mengerti booking fee tidak dikembalikan 100% namun 75%atau50% tergantung deal di awal, tapi bagaimana kondisi saya sebagai pembeli yang dicurangi dimana kesalahan ada di pihak developer sedangkan kita sudah rugi waktu dan rugi “HARAPAN MEMILIKI RUMAH IDAMAN” ditambah harga tanah selalu naik seperti yang saya jelaskan sebelumnya, dengan kata lain artikel ini jangan ditelan mentah2 tapi harus dilihat kasus per kasus dan tolong lihat dari sisi pembeli yang mana di Indonesia selalu menjadi pihak yang dirugikan.

    mari kita tegakkan etika bisnis yang jujur

    terima kasih

  7. Jutex, Embang says:

    Bener banget atas pernyataan tmn2 semua & artikel ini.
    Sy termasuk salah satu nya, dimana sy tidak bisa lepas dari situasi & kondisi yg ada waktu membeli rumah.
    Proses KPR saya ditolak dlm proses BI Checking. Sy orang awam kurang paham masalah perbank-an, meski sy sdh menunjukan surat bukti lunas yg membuat nama saya nyangkut di bank tsbt.
    Secara umum otomatis bkn dari sisi sy yg membatalkannya & berharap semua uang yg sdh di setor akan kembali. Namun dilapangan itu jauh dari harapan sy. Pengembang akhirnya menawarkan solusi, sy diksh jangka waktu utk menyicil rmh tsbt. Tentunya dg hitung2an dari si pengembang yg berkiblat pd KPR bank’XXX’ plus bunga ‘xx%’.
    Posisi yg sulit buat sy waktu itu. Ibarat kata mundur nga bisa, maju pun terpaksa :) .
    Sy memutuskan utk ‘maju’, hanya bermodalkan ‘kwitansi2′ dari si pengembang. Sy berharap posisi sy tdk lemah dlm ‘legalitas’ kepemilikan rmh tsbt.
    PPJB tdk punya, sy tdk tau apa karena tdk melalui KPR sy blm berhak memegang PPJB. Semua yg tau alesannya hanya si pengembang.
    Disini lah diperlukannya ‘TRANSPARAN’ si pengembang dlm memasarkan produk rmhnya.
    Bagi konsumen uang DP yg diserahkan utk jangka panjang dlm kepemilikan ‘RUMAH IDAMAN’
    (terutama spt sy yg bkn kategori kelas menengah ke atas)

    thx;

  8. Jhon says:

    Dear all,
    ini terjadi di wilayah Pringsurat -Temanggung – Jawa tengah…
    pengalaman melelahkan dengan pengembang nakal sangat menyita waktu,
    ini terjadi ketika pengembang sangat tertutup.
    saya sdh 2 tahun menempati rumah KPR, jaringan air juga belum terpasang dengan tidak ada pemberitahuan tertulis dari pengembang (persoalannya apa). meskipun beberaapa tetangga sdh dipasang…
    Saya cobab klarifikasi ke PDAM, ternyata pembayaran ke PDAM oleh pengembang tersebut kurang beberapa juta.mau pasang secara pribadi ke PDAM tidak diijinkan karena seluruh jaringan diperumahan sdh ada kontraknya antara PDAM dg pengembang….
    sampai kapan penantian ini…ataukah untuk sementara tdk perlu ngansur ke BTN yaa.

  9. Jhon says:

    dear all,
    mohon pencerahan kepada siapa saja…..
    1. site plan yang sdh di tandatangani oleh BPN, Bappeda dan PU dengan realisasi berbeda kataan dilapangan bagaimana ( karena mengurangi hak lebar jalan beberapa rumah)

    2. apakah benar kalau di leaflet yang dikeluarkan oleh pengembang itu hanya sekedar ilustrasi belaka yang tdk wajib sepenuhnya dipenuhi oleh pengembang?

    3. apakah boleh ya… kalo pengembang mau memperluas perumahan mengambil secara sepihak tanah play ground yang menjadi hak warga perumahan terdahulu, serta tdk perlu ijin gangguan baru ?
    4. mohon ada rubrik hukum , biar Rumah.com makin ok,
    5.

  10. satria prakasa says:

    Salam kenal..saya tertarik dengan artikel ini karena berkaitan dengan “kondisi yang terjadi” dalam pembelian rumah melalui proses KPR yang melibatkan beberapa pihak yaitu calon konsumen, developer dan bank

    Saya ingin memberikan beberapa masukan sederhana yang mungkin bisa berguna, antara lain :
    1. Mengenai BI Checking
    Proses BI Checking di bank merupakan salah satu SOP setiap proses kredit untuk meng-investigasi berbagai hal, antara lain apakah calon debitur tersebut memiliki fasilitas kredit di bank atau leassing dan bagaimana performa pembayarannya. Hasil BI Checking tersebut secara tidak langsung bisa mencerminkan hal yang baik atau buruk terkait calon debitur, apakah itu karakter atau kondisi keuangannya. Dan biasanya bank enggan untuk melanjutkan proses kredit apabila diketahui calon debitur tersebut memiliki fasilitas kredit yang sering menunggak pembayarannya.

    2. Dalam hal “Transparansi”
    Sebagai calon konsumen yang masih awam, sebelum melakukan proses pembelian, alangkah baiknya kita mencari informasi terlebih dahulu mengenai pembelian rumah dari developer melalui KPR di bank dari sumber-sumber selain developer atau konsultasi langsung dengan pihak bank dan lain sebagainya. Jangan hanya menerima informasi satu arah saja dari developer, karena marketing developer pun belum tentu menguasai dan bisa menjelaskan ttg ketentuan-ketentuan yang tertera pada brosur penjualannya atau mungkin menguasi tapi karena gak ditanya makanya gak dijawab. Jadi sebelum berhadapan dengan marketing developer, kita sudah tau dulu apa yang mau ditanyakan agar jelas sehingga transparan, contohnya mengenai kesepakatan PPJB, booking fee, DP, perubahan harga jual, angsuran dan suku bunga di bank, dan yang paling utama adalah syarat-syarat untuk menjadi debitur di bank, karena semua itu ada ketentuan yang berlaku dan harusnya sudah mendapatkan penjelasan dari awal.

    3. Developer yang membangun image yang baik.
    Image yang baik sangat penting dalam setiap hal karena sangat menunjang reputasi di masyarakat, terutama dalam usaha . Biasanya calon konsumen mendatangi developer dulu sebelum ke bank, bagi developer yang sudah familiar dengan ketentuan KPR di bank, seharusnya selektif dalam memilih konsumen terutama konsumen yang berencana membeli rumah melalui KPR di bank, paling tidak marketing developer bisa menjadi filter sebelum berkas dari konsumen masuk ke bank, karena developer pasti ingin dinilai positif juga oleh pihak bank karena selalu mereferensikan calon debitur yang layak sehingga meminimalisir penolakan kredit dari bank dan terhindar dari masalah dikemudian hari.

    Mudah2an masukan sederhana ini bisa berguna…

    thx

  11. Agung says:

    aku se-7 ma smua yg diungkap teman2 .aku juga ngalamin tuh udah bayar DP plus biaya admin yg lain tapi mpe skrg rumah belum dibuat.wkt aku tanya ma pengembang mrk bilang kalo sertifikat tanahnya masih bermasalah di bank…wah gmn tuh…uang DP diminta kembali nggak bisa…bagaimana tuh pengembang koq gak bertanggung jwb…teman2 ada yg bs kasih masukan? trims

  12. didi j says:

    tdk hanya sebatas DP,proses, ahirnya lunas, komplex tempat tinggal saya sekarang pun mangkir , sdh 5 th saya tinggal di vila ilhami islamic karawaci, saya pikir nama besar islamic karawaci dgn sloganya waktu itu “berpagar iman berserambi silaturahmi”, sangat menyejukan hati setiap muslim yg membacanya termasuk saya, tp kenapa ya kok mereka ingkar dgn manjadikan jln depan rmh saya sebagai jalan umum yg membelah komplek ke arah perkampungan padahal awalnya jln rmh saya itu buntu, sdh berapa kali saya komplai minta dikembalikan seperti master plan awal tp sampai sekarang tdk ada niat baik dari mereka, subhanallah ahirnya sekarang kami sesama penghuni komplex gontok gontokan memasang rantai di setiap perapatan agar tdk terganggu dgn motor2 yg suka kebut2tan, ahirnya saya hanya bisa bersabar sambil menunggu mudah2an allah swt membukakan hati mereka utk bertanggung jawab

  13. Michael says:

    Temanku juga ngalamin nasib naas saat ditipu oleh pengembang (PT VTRM) di wilayah Depok, dan bank-nya (bank BYB di Jakarta) juga turut amburadul dengan menyetujui developer yg gak bonafide. Dia sudah nyetor ke Bank beberapa tahun tapi developer dan bank tidak bertanggung jawab, seolah-olah sengaja menghindar.

  14. Yogi says:

    Dalam brosur terdapat pilihan cicilan 15 tahun. Dengan mempertimbangkan kemampuan, maka saya memilih yang 15 tahun. Nanum setelah uang muka saya setorkan, saya diarahkan untuk cicilan 10 tahun, seakan2 pilihan 15 tahun itu hanya di brosur aja. Saya menjadi gusar karena bakal tidak mampu (berat) dengan cicilan yang keluar dari perhitungan saya semula. Sementara untuk mundur jelas uang muka akan hangus…bagai mana ini, mohon pencerahannya…Terimakasih sekali sebelumnya.

    • Alex Pangestu says:

      Coba saja dijelaskan kalau Mas Yogi keberatan secara finansial jika cicilannya hanya 10 tahun.

  15. susi says:

    saya salah satu korban dari pengembang yg nakal, marketingnya kabur tidak bisa di hub yg tersisa hanya si owner pengembang. saya membeli rumah dgn cash bertahap thn 2008 dan di janjikan rumah dengan segala fasilitasnya (cctv, security, jalan, dll). kenyataannya rumah yg di bangun tidak sesuai dgn schedule, sdh begitu hanya saya berdua tetangga yg di bangunkan rumah tanpa fasilitas apapun. bahkan listrik juga sampai skarang masih nyalur dr org kampung, jalan masih tanah merah sehingga kalo hujan persis kubangan kerbau, di sekitar rumah saya di tumbuhi rumput ilalang tinggi yg tak terurus karena hanya ada 2 rumah, rumah saya sering kemalingan walaupun hanya berupa makanan2 dan keperluan hari2 seperti sabun, shampo, makanan ringan dsb. dan karena mmg tidak ada barang yg berharga mahal di rumah saya ini. dan yg paling parah SAMPAI SEKARANG sy tidak di berikan AKTE JUAL BELI apalagi SERTIFIKAT HAK MILIK yg di janjikan dengan dalih nanti akan di berikan setelah pecah sertifikat. kenyataanya sejak tahun 2009 sampai sekarang tidak ada lagi pembangunan rumah, jadi praktis hanya saya dan tetangga saya itu saja yg ada (2 rumah termasuk saya). saya pernah minta balik uang saya karena tidak tahan dengan kondisi sepertii ini tetapi saya malah di caci maki katanya sdh selesai urusan dengan saya karena sdh di bangunkan rumah (faktanya sy yang harus pasang keramik lantai sendiri, closet beli dan pasang sendiri, pompa air pasang sendiri, akte jual beli dan sertifikat hak milik tidak ada)…….saya dan anak saya (saya single parent dengan 1 anak sekarang berumur 5th) bahkan pada awal2 pindah rumah tidak berani tidur di rumah tetapi tidur di jalanan seperti (pintu tol bintaro, pom bensin, parkiran mc donald bintaro yg buka 24jam) karena saking takutnya. pada waktu itu anak saya berumur 2,5tahun, tetapi setelah setahun berlalu dengan kondisi seperti itu akhirnya saya pasrah, tidak bisa berbuat apa2 selain untuk tinggal di rumah dengan kondisi sangat tidak layak seperti ini serta tanpa surat2 yang syah (saya tempati rumah ini sejak akhir 2009).

    saya mohon saran, dimana saya bisa minta bantuan dan mengadukan hal ini krn kalo ke aparat hukum terus terang saya sdh tidak sanggup membayar biaya2 nya (sy pernah tanya lawyer). karena uang saya sdh habis untuk bayar rumah ini. bahkan untuk ngontrak, pindah rumah saya mikir krn anak saya sdh mulai sekolah dan perlu biaya yg tidak sedikit. sehingga saya memilih untuk menempati rumah ini.

    terima kasih, mohon sangat sarannya.

  16. helmy says:

    saya ngambil KPR rmh 15 th.tp saya merasa ada yang ga benar dengan cicilan pembayaran KPR rmh saya…
    karna pada saat perjanjian dl cicilan flat cuma 2 th…tp sudah jalan 3 th cicilan tp masih flat juga.
    apa yg harus saya lakukan ….?karna saya jadi tidak nyaman dan kepikiran …
    mohon solusinya….terima kasih….

    • Alex Pangestu says:

      Bunga KPR itu kebijakan bank sendiri. Jadi, coba ditanyakan ke bank yang Mas Helmy gunakan.

  17. neni andhini asri says:

    saya hanya ingin tahu mengenai HGU dan hak milik karena saat ini saya akan membeli perumahan menggunankan fasilitas KPR dari salah satu bank, saya baru membayar booking fee nya sementara kredit ke bank sedang proses, saya jujur ada rasa takut karena katanya perumahan itu ada HGU dan hak milik mohon penjelasaanya

  18. dore sivoloky says:

    saya beli rumah dengan bumi sawangan indah KPR tapi sampai saat ini sudah 4 tahun n sudah nyicil selama 2 tahun rumah kagk jadi, malah pengembangnya kabur…. aye sumpahin ngembung perutnye krn dibawa kbur uangnye pengembangnye namanye hj ely,

  19. Dewi says:

    saya beli rumah dengan permata alam regency yg berlokasi di wonoayu, sudah 1tahun ini rumah tersebut fasilitasnya belum lengkap, bahkan listrikpun belum masuk, jalan belum terpaving. saya pernah tanya sama pengembangnya alasannya nunggu spk turun, padahal duluwaktu minta dp rumah saya dikejar kejar terus,

  20. Abdul Azis says:

    Saya beli rmh di daerah krian wonoayu. pada saat wawancara dengan pihak Bank katanya ada subsidi dari pemerintah bunga bank akan flat 8.15 %, selama cicilan berlangsung, akan tetapi pada saat realisasi he… ternyata tetap mengikuti suku bunga. ya bagaimana lagi uang saya sdh masuk banyak dengan berat hati akhirnya saya terimah. yang saya mau tanyakan apakah harus seperti ini nasib orang kecil terima kasih..

  21. Macca says:

    Apakah wajar apabila sebuah apartemen yang sedang dipasarkan tidak bekerjasama dengan bank ? Saya tertarik membeli sebuah apartemen yang iklannya cukup banyak di media. Tetapi setelah saya datang dan membayar booking fee ternyata apartemen/developer tersebut tidak bekerja sama dengan bank. Ilustrasi pembayaran yang diberikan oleh marketing hanya berupa hard cash, cicilan 12, 24 atau 36 bulan. Berhubung developer tidak bekerjasama dengan bank, maka pembayaran baik hardcash maupun cicilan semua disetor ke rekening developer. Saat ini apartemen tersebut belum dibangun. Menurut developernya, pembangunan akan dilaksanakan bulan Maret 2012 mendatang.

    Minta masukannya ya…terima kasih sebelumnya..

    • Alex Pangestu says:

      Wajar saja sih. Anda bisa minta patokan harga ke pengembang, lalu datang sendiri ke bank untuk mengajukan KPR.

  22. agus j says:

    informasi untuk bu neni
    untuk mengetahui perbedaan antara HGU dan Hak Milik dapat dilihat pada http://www.jdih.bpk.go.id/informasihukum/PersandinganHM_HGBHP.pdf

  23. Rachmat says:

    Saya setuju dengan comment rumah.com..sebenarnya saya sudah 3 tahun ini menempati rumah yang baru..namun kecewa jua sih..karena kualitas bangunan yang jelek..Harap benar-benar diperhatikan proses penerjaan nya apabila kita sudah deal dengan pengembang tersebut..kalau perlu kita “tongkrongin” aja tu tukang-tukangnya biar lebih bertangungjawab jika bangun rumah..

  24. Mizan says:

    Saya setuju dengan artikel seperti ini sehingga bisa membantu masyarakat berhati-hati dalam membeli rumah.

    http://kprid.wordpress.com

  25. Hadi Purnomo says:

    Salam,

    Maaf saya awam, baru mau rencana beli rumah, dan sudah dapat rumah yg ditaksir, dan sudah ngebet pengin bayar booking fee, tapi masih ada yg bikin saya ragu.

    Salah satu yg bikin saya ragu adalah KPRnya malah tanpa DP samasekali (wajar gak sih?), dan kemudian dalam klausul brosurnya ada yg mengatakan, jika pembelian rumah batal karena KPR ditolak oleh Bank, maka calon pembeli dikenakan biaya 5% dari harga rumah. Bagaimana mungkin kita harus bayar (atau uang muka hangus) jika pembelian batal bukan atas kemauan kita, tapi karena bank yg tidak mengabulkan KPR?? Apa ini wajar???

    Dan dalam hal ini, yg dimaksud 5% itu adalah semacam “uang muka” (tapi jumlahnya di bawah 10 juta) yg harus sudah dibayarkan paling lambat 2 minggu setelah bayar booking fee, dan jika uang itu belum dibayarkan maka pembelian dianggap batal. Padahal ada kemungkinan, ketika kita membayar yg 5% ini, proses analisis kredit KPR di bank belom selesai. Jadi jika ternyata KPR tak disetujui bank, uang 5% yg terlanjur dibayarkan inilah yg akan “angus”. Apa ini wajar??

    BTW, rumah yg hendak saya beli adalah ready stock, maksudnya rumahnya udah berdiri dan bahkan udah agak usang karena entah kenapa kavling yg itu lama gak laku2, sedangkan yg sebelah dan di depannya udah laku.

    Thx. Saya mohon bantuan nasehat atau info yg benar, karena saya masih sangat awam..

  26. terima kasih infonya, temukan perumahan idaman dikawasan bandung timur dengan graha batu karang

  27. dina says:

    siang

    saya lagi bermasalah dg developer perumahan (ga tw developernya yg bermasalah ato saya yang ga sabaran dan g tw prosedur)
    saya uda akad kredit dg bank BTN bulan maret 2012 lalu, sampai hari ini saya belum mendapat kan surat2 akta kredit, asuransi dsb, saya punya tunggakan tanah hook yang insyaallah lunas bulan ini, saya jg belum mendapakan kunci rumah, saya dan suami sudah berkali2 menghubungi pihan developer menanyakan perkembangan pembangunan rumah, pihak developer meminta kami untuk menghub marketing yang ada dilapangan, kami udah sering jg menanyakan ke org tersebut tp jawabannya selalu dilempar lagi ke marketing yg lain dan dia selalu bilang kalo nanti ada pemasangan pintu dsb kami akan diberitahu, tapi ketika kami kesana u survey pintu sudah terpasang dan g da info dr org tersebut.
    kami ingin mengajukan surat complain ke developer tersebut mengenai pemasangan listrik, savetytank, pengeboran sumur kondisi rumah, surat2 dsb gimana caa bikin suratnya y?
    ada yang bisa membantu?soalny uda capek bhub dg marketing itu slalu banyak alasan

    terima kasih

  28. Bayu Putri says:

    Saya berencana membeli rumah. Awalnya karena ada promo booking fee cm 500 rb,DP bisa di angsur 3x.saya cm dikasih kwitansi booking fee stempel developer.syarat2 sudah dipenuhi.tp yg bikin bingung,pihak developer minta DP pertama,padahal blm acc bank. Yg bikin tambah bingung,,,meskipun DP sudah lunas 3x tp bank (seumapama) tdk acc DP cuma dikembalikan 75% saja atau jalan lain lewat pembelian cash dan booking fee hangus.saya sbgai customer punya mimpi punya rmh jdi tkut bwt maju trs…tlg minta solusinya…apakah prosedur tsb bener atau akal2 an??thx.

    • Anto Erawan says:

      mungkin itu hanya booking fee saja, bukan DP.. jadi harus diperjelas lagi, karena DP rumah lewat jalur KPR (bukan cicilan bertahap kepada pengembang) memang semestinya melibatkan pihak bank. :)

  29. Shanti Kristiani says:

    Saya merasa pengembang nakal kadang dilindungi oleh bank pemberi kredit.
    Saya membeli rumah dengan SHM di daerah Kutisari, Surabaya. Sistemnya KPR indent. Sebelum akad kredit, saya sudah ragu-ragu karena lahan belum dikavling-kavling. Saya sampai bertanya kelegalan status lahan ke Bank pemberi kredit, notaris dan sesepuh lingkungan tsb. Semua bilang pengembang memang bisa dipercaya dan lahan tidak dalam kondisi sengketa. Apalagi Bank yang dipercaya pengembang termasuk bank pemerintah yang cukup terkenal.
    Ini sudah bulan ke-30 sejak akad kredit dan serah terima rumah belum terlaksana karena pengembang mengingkari perjanjian jual beli.
    Saya sudah menulis surat komplain ke Bank pemberi kredit, tapi tidak ada jawaban dan tindakan tegas. Pihak bank hanya bilang memang pengembang sudah sering di-komplain, malah bank seakan menganggap saya membuat rumit masalah dengan tidak mau menerima rumah dengan kondisi apa adanya. Anehnya, di bulan ke-30 ini, Bank tidak memegang SHM rumah. Saya sampai tanya ke notaris, pengurusan SHM memang diperlambat karena developer menunggak sejumlah uang kepadanya. Saya tanya tentang IMB, ternyata rumah saya dibangun tanpa IMB induk.
    Saya pernah baca di surat pembaca ada 2 kasus yg menyangkut Bank yang sama dengan pemberi kredit saya, dimana di akhir masa kredit nasabah tidak mendapat SHGB ataupun SHM karena SHGB atau SHM masih diurus oleh pengembang. Aneh kan?
    Apakah Bank memang tidak perlu melindungi nasabah dengan membantu menyeleksi pengembang yang diajak kerja sama?

    • Anto Erawan says:

      turut prihatin Ibu Shanti.. saya juga baru pernah denger ada pengembang membangun tanpa IMB :O
      mudah2an kejadian ini yg pertama dan terakhir.. :)
      kalo boleh tau, bank-nya apa? biasanya pihak bank menjadi salah satu “filter” konsumen untuk memilih pengembang, karena bank biasanya melakukan uji kelayakan terhadap developer..

  30. ternyata banyak sekali rekan2 yang tertipu pengembang nakal

  31. eren ertito says:

    untuk ibu shanty, kalo boleh tahu apa nama perumahan dan pengembangnya ? karena feeling saya kok saya berurusan dengan pengembang yang sama..
    saya juga sudah membayar booking fee dan cicilan DP1, jumlahnya cukup besar tetapi sampai seminggu setelahnya (sampai sekarang) saya belum diberi PPJB.

    dan satu lagi, utk proses pengajuan KPR katanya paling cepat dilakukan di bulan Desember 2012 karena sertifikat belum di-split, padahal di PPJB saya sudah terlanjur sepakat bayar DP tiap bulan s/d januari 2013 dan ada denda keterlambatan per harinya. saya menandatangani PPJB tersebut karena saya bener2 mengidamkan punya rumah untuk keluarga kecil saya, dan bercita2 ulang tahun pertama putri saya nanti bisa dilaksanakan di rumah baru.

    apakah ini wajar? bila tidak maka akan saya batalkan (meskipun booking fee hangus) saja daripada terlalu beresiko, mohon bantuan penjelasannya

  32. rahim says:

    saya membeli rumah dengan pengembang kecil-kecilan ( yang hanya membangun 5-6 unit rumah ).kami telah menyerah kan seluruh dp sebesar 75 juta” bukan hanya booking fee,tetapi rumah tidak dibangun2 hanya janji2,langkah hukum apa yang harus saya tempuh agar uang saya bisa kembali full,karena janagankan rumah dibangun proses kpr pun belum ada.mohon pendapatnya

  33. Darmanto says:

    tahun 2007saya membeli rumah seharga Rp49.000.000,- rumah saya tersebut dibangun tahun 2009. saya sudah bayar DP Rp30.000.000,- (61% dari harga rumah). namun sampai dengan 16 Oktober 2012 ini sertifikat rumah saya belum diselesaikan oleh developer. kalau kami tanya masalah sertifikat, mereka selalu menjawab belum punya uang. saya semakin kuatir, karena mereka membangun dan menjual type yang sama sekarang dengan harga Rp159.000.000,- jangan-jangan mereka sengaja tidak mau mengurus sertifikat saya dengan maksud saya tidak sabar dan mundur, kemudian mereka mengembalikan uang yang sudah saya setorkan saja. sementara saya sudah menambah uang untuk tambahan mutu Rp3.000.000,- yang mereka minta, listrik (PLN) dan air (PDAM) dengan total biaya Rp4.750.000,- saya pasang dengan biaya sendiri. padahal pada brosur awal yang kami terima harga rumah tersebut sudah termasuk listrik dan air. yang menjadi pikiran saya sekarang ini masalah serifikat yang sampai saat ini belum mereka urus. saya sudah membicarakan hal ini kepada pengembang, namun sepertinya mereka tidak punya itikad baik untuk menyelesaikannya. saya berencana akan menyelesaikan masalah ini melalui jalur hukum, bagaimana sarannya. mohon balasannya, trims.
    salam
    darmanto – kota bontang

  34. ari says:

    mo konsul barang kali ada yang tahu klo misalnya pengembang membangun rumah dan fasilitas misal jalan dll tidak sesuai masterplan semula, apa saja yang menjadi hak kita sebagai konsumen?

    • Anto Erawan says:

      konsumen memiliki hak mendapatkan fasilitas, infrastruktur, sesuai janji pengembang.. jika mlihat brosur perumahan, alangkah baiknya melihat syarat dan ketentuan.. (biasanya dibuat kecil di brosur)

  35. ziezie says:

    mau Tanya…saya beli rumah dgn harga di brosur 120jt uang yang sudah masuk Booking fee 1jt,uang DP 15jt dan sudah akad kredit. Tetapi kenapa pihak bank menyetujui hrg rumah menjadi 110jt dgn cicilan selama 10thn yang pada akhirnya pihak marketing meminta uang PMK(Penurunan Maksimal Kredit) sebesar 10jt dan karna keuangan kami yang tidak stabil sehingga sampai sekarang belum lunas yang akhirnya kunci dan surat” pas akad tidak diberikan oleh pihak marketingnya karena belum lunas yang 10jt.
    Ini bagaimana ya..apakah prosedurnya sudah benar atau hanya permainan pihak marketing/developernya ??

    • Anto Erawan says:

      terimakasih feedback-nya..
      bu ziezie, apakah ibu sudah baca syarat dan ketentuan yg ada di brosur? yg saya tahu mestinya ketentuan jika terjadi PMK ada di syarat & ketentuan yg ada di brosur. Biasanya, jika penurunan maksimal KPR, maka menjadi uang muka dan harus dilunasi sebelum akad kredit..
      demikian :)

  36. Andylah says:

    Saya sanat setuju dengan adanya artikel di atas, dan banyak saya baca di comment – comment bawahnya banyak juga yang sudah “telanjur basah” berurusan dengan developer nakal. bisa kasih saran tidak bagaimana solusinya ketika kita sudah “telanjur basah” ?

    • ardi says:

      mksh pak anto erawan informasinya
      saya mo bertanya tentang point a pada hal – hal yang harus diperhatikan yaitu mengenai somasi. Apakah surat peringatan tersebut dikirim langsung oleh user atau melalui notaris atau gimana pak. mohon info selanjutnya.
      mksh byk

  37. kta dbs says:

    untuk lebih amannya mungkin para calon pembeli harus menggali informasi tentang profil pengembang dan site plan nya dulu, berpedoman pada artikel di atas.

  38. ardi says:

    Makasih pak anto erawan untuk informasinya,saya ingin bertanya kembali tentang point a pada hal – hal yang harus dilakukan yaitu melakukan somasi. Apakah surat peringatan itu dikirim langsung oleh kita atau melalui notaris atau gimana pak? mhn info selanjutnya

  39. liana says:

    saya membeli rumah, sudah membayar booking fee 5,5 jt. saat itu, marketing bilang kalo kpr tidak disetujui, maka developer akan membantu menjualkan rumah ke pihak lain dan dp saya akan dikembalikan. tetapi, saat akan penandatanganan ppjb, ternyata tertulis jika konsumen kpr tidak disetujui, maka konsumen harus membayar kekurangannya dalam waktu satu bulan atau jika tidak, maka uang dp akan hilang. karena tidak sesuai dengan penjelasan lisan di awal, saya menolak tandatangan ppjb, dan pihak developer bilang uang tanda jadi hangus. menurut saya sih, selama kita belum tanda tangan ppjb, uang tanda jadi bukanlah bagian dari proses jual beli. itu hanyalah sebagai titipan, bukti bahwa kita berminat dengan tanah/rumah yang dijual developer.terlebih jika pembatalan terjadi karena kpr tak disetujui atau dalam kasus saya ppjb yang berbeda dengan pernyataan lisan. semestinya uang tanda jadi kita dikembalikan semuanya. tapi yah.. banyak pengembang nakal, banyak marketing licik, jadi sebagai konsumen kita harus waspada. belajar dari kasus ini, lebih baik cash and carry. jangan beli rumah inden.kalo pun nggak mampu, lebih baik beli rumah bekas. waspadalah..waspadalah..

  40. vivi says:

    Hai semua..
    Saya vivi..2 thn yg lalu saya dan suami memutuskan membeli sebuah apartment di daerah sunter, dgn kemudahan membayar DP di cicil selama 2th lalu setelah itu baru akad kredit apartment. Dan selama kami membayar DP tsb, kami boleh lsg menempati unit apartment kami itu. Karena keuangan kami yg terbatas dlm membeli rumah maka kami amat sgt tertarik dgn penawaran tsb.
    Pertama kami membayar booking fee sebesar 5jt, dan pembayaran angsuran cicilqn Dp 1 sebesar rp 3jt, dan pembayaran utk Notaris PPJB sebelum kami menempati apartment tsb, lalu deposite sebesar rp 17.500.000.
    Sampai dgn hari ini kami telah melunasi cicilan Dp tsb selama 24 x rp jt, dan kami telah menempati apartment kami ini selama 2th sesuai dgn jangka waktu cicilan Dp tsb.
    Total yg kami telah bayar rp 3jt x 24 = rp 72jt + book fee rp 5jt + ( deposite rp 17.500.000) total rp 77.jt ( di luar deposite) .
    Masalah yg kami hadapi skr, akad kredit kami tidak di setujui oleh bank yg bekerja sama dgn pihak apartments tsb. Lalu pihak developers memberi solusi utk cash bertahap selama 18x cicilan. Tetapi harga unit apartment yg sudah kami tempati ini berubah harganya, tdk seperti harga yg tercantum di perjanjian pembelian dulu. Jadi kami hrs membayar dgn cara cash bertahap selama 18 bulan dan dgn harga baru. Atau uang yg telah kami bayarkan selama ini akan hangus. Kami sangat awam dgn pasal pasal dan ketentuan ttg masalah yg sdg kami hadapi. Kami berharap uang kami di kembalikan walau hanya 50%, karena uang itu tdk sedikit, setidaknya bisa utk membayar jika kami harus pindah dari sini, bs utk biaya kontrak rumah.
    Mengapa uang dp tsb tdk bs kembali? Pdh kan bukan kami yg membatalkan, ttapi dr pihak bank. Dan jika kami hrs membayar dgn hrg baru, dgn cicilan 18x pun kami tdk sanggup.
    Mohon bantuan teman teman,,trima kasih..
    Salam….vivi…

  41. vivi says:

    Hai..saya mao berbagi atas apa yg tlh sy alami skr.
    Singkatnya sy sdh membeli apart di daerah sunter, dgn kemudahan pembayaran dp dpt di cicil slm 2 th / 24 x rp 3jt + book fee 5 jt + pembyaran utk notaris ppjb + deposite 17,5jt. Total yg sdh sy byr rp 77jt utk Dp.
    Setelah 2 th ini sy sdh menempati apartm yg sdh sy beli ini, selama cicilan dp berjalan. Tetapi akad kredit bank sy di tolak.
    Developer memberi solusi dgn cara cash bertahap jika saya masih mao unit apartm ini, atau uang Dp yg telah sy byr senilai 77jt akan hangus..
    Dan yg paling bikin sy ga sanggup, hrg unit apartm ini tdk spt hrga yg dulu tertera, tetapi sy hrs mengikuti harga baru yg melonjak tinggi.
    Sy awam dgn masalah spt ini.
    Mengapa Dp saya yg 77jt tdk bs balik? Pdh bkn pembatalan dr sy..tetapi dri pihak bank.
    Sy berharap sekali Dp itu dpt di kembaLikan walau hanya 50 % setidaknya uang itu amat berharga utk saya dan suami. Karena keterbatasan keuangan kami. Dan uang itu akan membAntu sekali utk saya membayar sewa rumah jika saya harus pindah dari apartm ini, karena sy tidk sanggup utk membayar dgn hargA yg baru walau di cicil 18x.
    Apakah bnr2 tdk bisa balik lagi uang Dp itu??
    Mohon advice dr teman2 yg lebih berpengalaman dr sy…apa yg hrs sy lakukan??

    Regards vivi…

    Terima kasih

  42. David says:

    Saya mau minta nasehat..saya pembeli awam blum pernah beli rumah tapi saya tertarik dengan perumahan yang katanya perumahan jamsostek perumahan belum di bangun tapi developer minta dp 10jt tapi hanya kuitansi dan kreditnya gak lewat KPR dan tanpa bunga..bagaimana apakah termasuk depeloper nakal.

  43. han_jotekz says:

    Hati2 beli rumah dgn cash bertahap lewat developer krn waktu lunas pembayarannya baru tertera denda utk keterlambatnnya yg melebihi dr suku bunga bank hingga 36%p.a (total terlambat 6bln,tp denda yg dihitung 721hari sebesar 5jt lbh). Wkt byr tidak angsuran tidak ada pemberitahuan keterlambatannya dgn alasan sudah disampaikan di perjanjian jual beli setelah angsuran lunas! Jd harus tetap membayar denda,kl gk byr disita!! Apa rumah udh lunas,krn denda bs disita??? Mohon informasi dan bantuan hukumnya. Trima kasih.

  44. nitnit says:

    Saya membeli rumah dgn cash pada tahun 2011, tetapi sampai detik ini saya belum menerima sertifikat dari pengembang. Sudah berkali-kali saya tanyakan dijawab sertifikat diurus di pusat ( jakarta ). Saat ini saya mau meningkat rumah kesulitan karena syarat IMB adalah surat kepemilikan hak. Padahal developer tersebut termasuk developer besar, ternyata itu tidak menjamin kaloprofesional. Yang ada kita pembeli sebagai pihak yg dirugikan. Kalo tau seperti ini mendingan saya beli rumah di perkampungan. Bisakah saya menuntut developer tersebut karena tidak mengeluarkan sertifikat walaupun rumah dibayar cash? Ada nggak undang2nya. Trmksh

  45. Elhanda says:

    Selamat sore pak,

    Saya ingin menanyakan mengenai berita acara surat terima rumah, apa yg harus dilakukan jika pengembang meminta bantuan pembeli menandatangani surat tersebut padahal rumah belum selesai, dengan alasan agar turun kucuran dana tahap ke dua dari pihak bank, dan bagaimana jika mereka sangat memaksa, bagaimana cara mengantisipasi agar mereka tidak semena mena terhadap kita, mohon masukannya pak, kami sedang kebingunan dan merasa sudah tidak nyaman dengan sikap dari developer yg menunjukkan tidak kooperatif terhadap pembangunan rumah dan keluarga kami.
    Terimakasih.

    Salam

  46. Loren says:

    benar sekali.artikel di atas.
    say juga mengalami kejadian seperti ini,bahkan hampir semua pembeli di salah satu komplek di bandung utara.

    kejadianya udah Dp 50% cash lunak,dp dari april 2012.bangunan belum jadi,pas udah setengah jadi banguan di jual ke orang lain.bahkan aya 4 pemilik,
    terus developornya susah di temui,lari dari tangung jawab.Ajb juga ngak ada,di minta urusan suart perjanjian ngak ada,hanya berupa kwitansi,alesan nya katanya kalau udah serah terima kunci.pokonya kecewa sekali,setahun setengh ngak ada bukti,bahkan yg lebih parah kavling di jual sama orang.

    minta solusinya gimana supaya dia tangung jawab,saya udah ketemu hampir semua penghuni juga korban.bahkan ada beberapa tanah masih di pagar bambu karean belum di bebaskan.mohon saran.
    terima kasih.

  47. aguss says:

    saya juga pusing…saya mengambil rumah dengan kpr di daerah tangerang,booking fee udh lunas,uang muak saya cash dengan iming2 potongan satu juta.rencananya pembangunan maret,tapi molooor moloor terus.berkas2di suruh jangan di setorin dulu,kty klu udh 3 bulan tidak berlaku.ya gmn klu bangun rumah nya di ulur ulur teruss…mohon pencerahanya dari temen temen..thx

  48. Anto Erawan says:

    ya tergantung juga sih.. banyak faktor yg jadi pertimbangan bank :)

  49. adr says:

    kebetulan sekitar 3 bulan yg lalu saya baru akad kredit. namun saya belum dapat PPJB. saya sudah minta kepada developer pada saat serah terima saya mau PPJB ada.

    si developer sempat bilang, tanpa PPJB tidak apa2… tp saya ngga mau karena setahu saya selama belum ada tanda bukti serah terima, maka bank si pemberi kredit tidak mencairkan uang kepada developer.

  50. Arif says:

    KPR saya disetujui oleh Bank sebulan yang lalu, kemudian saya bayar ke pengembang untuk biaya pajak dll. Tapi sampai sekrang kok belum ada kabar juga untuk lanjut ke proses akad kredit.
    KIra-kira berapa lama proses dari acc bank ke tahap akad kredit?

  51. titin says:

    Saya minta masukkan bgmn sebaikkya, saya beli perumahan sdh 2 th, tp sampai skrg saya blm tempati krn surat tanah blm selesai msh diurus (awal jalur hijau), saya sdh dp, saya awam dr awal tdk dibuatkan ppjb o/ pengembang, pembangunan jg molor sanpai akhirnya krn saya perlu tempati saya selesaikan sendiri, dan skrg stlh surat jd saya dimnta bunga yg otomatis menambah hrg jual, padahal rmh saya blm tempati, sebaiknya saya bgmn ? Buat ppjb. Dmn?

  52. Risma says:

    Semua keluhan diatas adalah benar, tetapi memang saya rasa cukup sulit untuk menyimpulkan develover nakal sebelum kita mengalami kerugian terlebih dahulu :D

    Seperti saya yg sekarang sedang menunggu2 developer mengembalikan uang saya yg sudah terlanjur terbayarkan, sementara tanah perumahan yg dijual masih bermasalah. Padahal ini sudah mau lebaran dan kontrakan juga harus dibayar.

    Pengharapan saya sih, setidaknya ada lembaga / badan yang bisa mengawasi kegiatan developer, dan YLKI juga turut memberikan perhatian serius terhadap masalah ini. Tapi kalau jaman sekarang ini kalau berharap perhatian dari pemerintah apa tidak seperti pungguk yang merindukan bulan.

    Karena kerugian yang ditimbulkan oleh developer nakal ini nilainya bukan kecil2 kaya tipu2 berat timbangan di pasar, tapi ini nilanya kan sudah jutaan.

    Atau bagaimana kalau dibuatkan daftar nama, alamat dan nama project dari developer2 nakal, kemudian di sebarluaskan, pasti bakal banyak org2 yang terselamatkan, tapi takutnya malah kena tuntut pencemaran nama baik. Kalau misalnya developer harus ada sertifikasi khusus agar bisa beroprasi, malah takutnya bisa jadi lahan pungli baru yang ujung2nya juga, siap membela siapa yang bayar.

    Kemudian untuk booking fee, bagaimana dengan dasar hukum nya booking fee itu? Padahal kalau bayar booking fee kita kan belum ada tanda tangan perjanjian yg entah apa2lah istilah nya. Bagaimana kekuatan hukum kwitansi developer itu?

    Buat yang lebih paham soal hukum tolong dibantu share ya?

    Apakah ada undang – undang negera kita yang mengatur itu permasalahan ini, kalau belum ada undang – undang nya buat apa mereka dibayar mahal2 ya?

    Kalau ceritanya seperti komen2 di atas, apakah kita yang ingin dan berharap bisa punya rumah ini, harus membayar dulu dam kemudian tinggal menunggu nasib, kalau dapet rumahnya ya syukur, kalau tidak dapat ya belum rezeki. Kalau sudah seperti ini apa bedanya Developer dengan penjual togel.

  53. Arnies says:

    Saya inign tanyakan bagi Bapak & Ibu yg sudah berpengalaman dalam transaksi property, sebenaranya secara teknis ‘MOMENT’ KITA SEBAGAI KONSUMEN UTM MEMPEROLEH PPJB ITU KAPAN ya?

    Apa sudah seharusnya menerima PPJB berbarengan saat Uang Tanda jadi kita serahkan ke pihak engembang atau bagaimana?

    Karena saya lihat kasus2 yg ada disini rata2 tidak memiliki PPJB…apa PPJB butuh acc/tanda tangan dari pihak yg memang susah ditemui’ oleh phak pengembang kah atau karean keawaman kita sebagai konsumen sehingga tidak menyadari akan adanya PPJB?

  54. Yono says:

    Selamat Sore Pak,

    Saya mau menanyakan apakah salah jika saya menolak serah terima kunci dengan alasan menunggu diselesaikannya 100% rumah kami( kondisi rumah belum selesai) sedangkan alasan pihak developer adalah serah terima ini sudah discedulekan dengan pihak bank dan notaris, sehingga wajib datang,setelah serah terima baru pihak konsumen memberikan surat komplain ke pihak developer untuk diperbaiki.( Perlu diketahui saya membeli rumah indent – kondisi rumah pintu depan belum ada handle kemudian didalam rumah masih banyak barang barang sisa bangunan, kondisi banyak yang belum difinishing, dan pintu kamar serta pintu belakang rusak ). Mohon solusinya…

    terima kasih.

  55. rahmat says:

    terimakasih buat rumah.com, mohon saran nya.

    saya & beberapa warga yg sdh membeli/menempati rumah KPR sudah melakukan komplain baik melalui surat keluhan yg disediakan developer ataupun secara personal. tetapi hampir 5 bulan tidak ditanggapi. Shg kami berembug membuat surat bersama meminta pertanggung jawaban atas semua fasilitas yg ditawarkan/dijanjikan kpd kami dan itupun msh tidak ditanggapi dgn serius.
    ke-2 kalinya perwakilan kami pun ke developer lagi, dan sangat mengcengangkan jawaban dari pihak developer ” Ya sudah bapak2 kalo tidak suka dengan rumah yg sdh dibangun dijual aja, msh byk yg mau kok !!”

    mohon kiranya berkenan memberikan saran ? terimakasih

    Bravo rumah.com

  56. ronie says:

    Saya mau tny pak,. Saya mau beli rmh dgn harga jual 200.000.000. Saya sdh ngasih DP ke developer Rp 20.250.000. Itu termasuk booking fee 1 jt + administrasi 250.000. Dr pihak developer mengajukan KPR senilai 180.000.000.,lalu sm pihak bank di setujui hny 120.000.000. Otomatis kurang 60.000.000 dr pengajuan awal.nah,saya sm pihak developer di hub,dan di tanYain apakah mau melanjutkan apa mundur? Kalau melanjutkan harus nama 60.000.000. Akhirnya saya putuskan untuk mundur karena Saya tdk sanggup. Dan dr pihak developer uang muka saya di kembalikan 19.000.000,dg alasan kepotong biaya administrasi. Apakah wajar nilai administrasi sampai 1.250.000.?? Mohon bantuan dan petunjuk dr Bapak Bapak di sini.. terimakasih..

  57. Thiqa says:

    Saya adalah salah satu korban pengembang yang nakal.Sudah 8 bulan rumah saya belum juga dibangun. Janji2 membuat saya jenuh. Tapi klo saya lepaskan saya juga yang rugi karena pengembalian UM tidak 100% dan juga akan dipersulit. Yang paling menjengkelkan, marketing seolah-olah saling melempar tanggung jawab dan lepas tangan dengan masalah saya. Malah saya disuruh menghubungi sub contractor. Jelas itu sdh menyalahi aturan. Enak aja, saat kami bw uang aja mereka menerima dengan senyuman. Saat kami menagih janji mereka malah kucing2an. Benar-benar menjengkelkan.

Leave A Reply